March 25, 2018

Trip : Seoul, Korea Selatan – Part 1


Beberapa tahun belakangan ini apapun menyangkut Korea Selatan amat sangat di gandrungi. Pokoknya semua diawalai dengan huruf K, mulai dari K-Pop, K-Drama sampai K-Beauty dan K K lainnya. Tidak dipungkiri, karena menjadi salah satu faktornya. Sempat juga saya sebagai remaja jaman dulu nge fans sama SUJU dan SNSD. Rasa penasaran pun melanda untuk menyambangi negeri ini. Dengan Tapi apa daya saat itu masih mahasiswi, belum punya penghasilan. Baru deh saat ini bias sisihkan pendapatan walaupun dengan terseok-seok , akhirnya tabungan cukup buat backpacker
ke sana. Cuss deh buat Visa. Ulasan buat Visa Korea Selatan bias dilihat di sini ☺ 
Visa sdh di approved saatnya siapkan diri dan perlengkapan yang akan dibawa. Persiapannya sedikit rempong karena datang pas peralihan musim dingin ke semi. Cuacanya masih sangat dingin, pagi dan malam
hari mencapai 1°C. kebayang kan, orang yang hidupnya di daerah tropis ala bolang, 28-34 drajat datang ke negara yang iklimnya jauh berbeda. Coat, kaos kaki, penghangat. Perlengkapan tempur sdh siap dan hari H pun tiba.
Day 1
Berangkat pukul 11 dari kota Makassar, tiba pukul 4 Kuala Lumpur. Karena menggunakan AirAsia maka kami transitnya di KLIA 2. Karena penerbangan selanjutnya KL-Incheon masih lama pk 23.30 nanti maka ada baiknya sempatkan dulu berkeliling di KLIA 2. Setelah keluar imigrasi dan mengambil bagasi, keluar dari pintu kedaatangan kitaakan di sambut Klia2 gateway yang merupakan nama mall di KLIA. Mungkin inilah yang dikatan bandara rasa mall. Bedanya pada suasana ramainya dengan orang-orang yang berbelanja sambil membawa koper. Bebagai jenis tempat makan ada, seperti kopi tiam, KFC, burger king dsb. Garreth Popcorn juga ada disini dan harganya lebih murah dari gareth popcorn di singapura. Dikarenakan koper yang lumayan besar dan berat, maklum persiapan untuk 9 hari ditambah perlengkapan untuk cuaca dingin, maka dititipkanlah koper kami di Lugage Storage. Letaknya di lantai 1 berdekatan dengan jaya grocery. Penitipannya tidak lagi menggunakan loker yang dan vending machine lagi seperti yang di bahas di berbagai blog traveling. Akan ada petugas yang akan mengabil koper kita untuk dibawa ke ruang penitipan. Hitung-hitung harganya jatuh lebih mahal di banding yang dulu karena yang menentukan ukuran koper adalah petugas. 1 barang dihitung 1 item. Tas ransel yang saya bawa digolongkan ukuran Small sedangkan koper berukuran 20” saya dikategorikan ukuran Medium oleh petugas. Harganya berlaku untuk 24 jam penitipan. Kalau lewat dari waktu yang ditentukan maka harganya berlaku kelipatan. Jadi kalo barang bawaan tidak terlalu banyak sebaiknya sambil dibawa saja. Lebih bagus lagi kalo pakai koper yang roda 4 biar lebih mudah bawanya.
Suasana di KLIA2 Gateway
Pricelist Lugage Storage
Waktu check in pun tiba, agak membingungkan jg sih pada saat check in karena tidak ada tulisan di layar di konter mana kami harus drop bagasi, untungnya ada rombongan opa2 dan oma2 yang dari cara bicaranya seperti di drama-drama korea. Ngikutlah kami antri di rombongan itu. Drop bagasi pun beres. Saatnya melewati imigrasi lalu menuggu watu untuk boarding. Letak Gate nya lumyan jauh, di gate P23. Pesawat take-off pukul 23.50 dan akan tiba di Incheon pukul 08.20 pagi, Mungkin sekarang agak trauma juga pakai maskapai kelas ekonomi untuk perjalan yang lumayan jauh. Tidur di pesawat jadi kurang nyaman karena fasilitasnya yang tentunya sesuai harga. Sampai di bandara Incheon badan jadi pegal-pegal semua.
Counter Airasia
Day 2
Pukul 8 pagi Pak pilot mengumumkan sesuatu, walaupun kedengarannya seperti lagi kumur2, ibaratnya pak pilot bilang bahwa kita sebentar lagi mendarat nih, kita tiba 15 menit lebih awal dari jadwal. Akhirnya.. sedikit lagi menapaki negarnya BTS. Turun dari pesawat kita harus jalan lagi dan lumayan jauh menuju terminal kedatangan tapi ada skytrain yang akan mengantar kita ke imigrasi. Awalnya bingung juga karena pengumuman di pesawat kebanyakan menggunakan Bahasa korea. Jurus paling ampuh tentunya ikut arus orang-orang yang satu pesawat. Barisan antrian untuk naik kereta amat banyak dan sangat padat. Dapatnya antrian paling belakang lagi. Dapatnya pas giliran ke tiga. Tapi bagusnya semuanya tertib walaupun tanpa petugas. Salut! Tidak sampai 5 menit sampailah di terminal kedatangan. Intinya ikut arus saja sambil liat papan petunjuk. Di imigrasi antriannya cukup unik. Setelah mengantri di barisan kita dipersilahkan maju, 2 di depan dan 2 dibelakang, berdiri sesuai dengan stiker kaki besar dilantai. Nah ini dia salah satu yang paling bikin deg-degan kalo traveling keluar negeri. Selain karena petugas imigrasi yang biasanya jutek, keberuntungan pun masih sedikit teruji disini. Walaupun visa sudah aman, tetap ada kemungkinan masih kena random check. Alhamdulillah lacarrr. Kecewa sedikit, penasaran dengan model stempel imigrasi tapi yang didapat lembaran kecil yang tulisanya tanggal kedatangan dan jangka waktu stay yang dizinkan.

Imigrasi beres, saatnya ambil bagasi dan langsung cuss celingak celinguk cari stasitun Express Train AREX untuk menuju Seoul. Stasiunnya berada di lantai bawah/underground. Untuk yang di Terminal 2, stasiunnya berada di lantai B1F Incheon Intl' Transportation Centre. Dari kejauhan terlihat vending machine warna orange khas milik AREX. Disampingnya ada petugas yang siap mebantu kalau kita kebingan memakai mesinnya. Maklum hampir seluruh panduan memakai huruf hanggul. Teman seperjalanan yang fans kpop garis keras sempat agak histeris pas lihat si babang petugas. Perawakannya memang seperti anggota boyband korea. LoL. Karena beli tiket  lewat Klook, pilihan terbaik pastinya bertanya sama oppa petugas. Bahasa inggrisnya sangat baik,pengucapannya bisa dipahami. Sempat was was juga tentang ini karena konon katanya penduduk asli jepang dan korea cara pelafalan nya sangat berbeda. Walaupun tiketnya sudah di beli online, kita harus tetap membayar seharga ₩500 per orang untuk deposit tiket yang nantinya akan dikembalikan di tempat tujuan dengan memasukkan tiket  ke vending machine lagi. Jadi yang keluar ada 2 jenis, kartu  tap untuk masuk/keluar stasiun dan tiket selebaran yang tercantum waktu keberangkatan dan nomor kursi. Kereta nya datang tepat waktu sesuai yang tertera di tiket. Dekat pintu kereta ada tempat untuk simpan koper. Waktu perjalanan sekitar 45 menit menuju Seoul Station. Selama perjalanan kita bias liat pemandangan pinggiran kota dan kebanyakan berupa area industry. Akan ada pengumuman bahwa sebentar lagi sampai di soul station.



Kita akan keluar dari peron yang berada dilantai paling bawah, lantai B2F. Keluar dari kereta, naik elevator menuju lantai paling atas. Tap kartu untuk keluar. Sempat kesasar juga karena mungkin miss komunikasi dengan sepasang oma opa yang sangat berbaik hati mau membantu kami mengantar ke tempat tujuan. Akhirnya terjadi juga yang ditakutkan seantero jagad para traveller, yakni masalah Bahasa. Tujuan kami seharusnya stasiun Ihwa university tapi si Opa dengarnya Yehwa Station. Maka dengan polos dan lugunya kami ikut-ikut saja. Lihat di peta Subway, koq warna line stasiunnya bukan warna hijau, yang merupakan tujuan kami. Peta Seoul Subwaymemang agak rumit dibanding Singapura MRT. Pemberhentiannya yang banyak kadang bikin bingung, karena tulisan di mapnya jadi kecil-kecil. Di google map line stasiun-stasiun subway juga kurang lengkap seperti singapura. Tapi setelah satu dua hari naik mrt akhirnya paham juga. Karena tidak ingin buat tersinggung si Opa dan Oma, kami berpamitan dengan alasan ada teman yang akan menjemput kami dan kami pun segera turun dan berganti kereta kembali menuju Seoul Station. Masalah tidak sampai disini saja. Jeng jeng jeng. Ternyata kami lupa beli T-Money saat masih di bandara tadi saking excited nya. Segera kami mencari loket petugas, dan ternyata di loketnya sedang tidak ada petugas. OMG! Ditengah kepanikan yang melanda, secercah harapan tiba. Mesin tap untuk keluar dari Seoul stasiun tidak pakai palang! Di depan mesin tap juaga da minimarket yang pastinya menjual T-Money. Thanks God! Tanpa ba bi bu, segeralah kami berakting pura-pura men-tap si mesin kemudian segera menuju minimarket yang Alhamdulillah menjual T-Money. Harganya ₩4,000 belum termasuk saldo. Isi saldo sebanyak ₩10,000 kurs saat itu Rp13,2 dengan perkiraan cukup untuk 3 hari pertama naik subway dan bus.
Seoul Subway Map

T-money sudah aman, kami masuk lagi ke seoul station dengan mentap si kartu baru. Di display mesin akan terlihat jumlah saldo terakhir. Setelah tap, kami menuju  gerbong jurusan City Hall Station, Sebelumnya kami harus turun dulu di stasiun City hall untuk ganti kereta dengan line yang berwarna hijau. karena kami akan  menuju hostel di dekat maka dari City Hall Station lanjut kereta yang kami Chungjeongno Station dan berhenti di Ewha Univ. Station. Kami keluar di exit….. yang jaraknya sudah sangant dekat dengan Hoseong Hostel tempat kami akan menginap selama 6 malam. Sampai di hostel masih pukul 11.30. belum bias check in. tapi pemilik hostelnya sangat baik. Kami dijinkan mau menunggu di hostel atau mau titip barang. Kami juga dipersilahkan minum kpi instan yang sudah disediakan tapi self service alias bikin sendiri. Karena udara amat sangat dingin, rasa malu dan jaim disingkirkan jauh-jauh, langsung saja kami buat kopi di dispenser yang disediakan. Rasa penat dan sisa-sisa huru-hara di stasiun tadi hilang sejenak setelah minum kopi instan korea yang walaupun sebenarnya rasanya sama saja dengan di Indonesia. Setelah istirahat beberapa menit, tanpa pikir panjang kami memutuskan untuk menitipkan koper dan menuju destinasi pertama yaitu Dondaemun Design Plaza (DDP). Dari Ehwa Univ. Station, naik Subway jurusan Sinchon Station  turun di Dongdaemun History & Cultural park Station. Disitu silahkan pilih mau exit mana. Karena punya tujuan mau ke Stardium, tempat jual merchandise K-pop, kami keluar di exit yang menuju DDP.

Dongdaemun Design plaza (DDP)

Didesain arsitek wanita Zaha Hadid yang berkolaborasi dengan Samoo, merupakan bangunan yang tujuannya mengakomodasi kegiatan public seperti industry kreatif dan kebudayaan. Yang penggemar artis-artis keluaran SM Ent. Disini ada SUM market yang mejual merchandise officialnya. Sayangnya rumput di tamannya masih kering karena saat itu belum masih musim peralihan dari winter ke spring. Disekeliling DDP adalah area perbelanjaan, mulai dari pedagang kaki lima sampai mall khusus duty free seperti Lotte Duty free dan Doota Duty Free. Ada juga beberapa lapak yang menjual ole-ole seperti gantungan kunci, magnet kulkas dan sebangasanya. Yang doyan belanja disini surganya. Jangan sampai kalap seperti saya ini. Tergoda dengan harga gel aloe vera merk Nature Republic yang cuma seharga ₩4,800 ditambah lagi cashback pajak/GST sebanyak 7% dengan belanja minimal ₩30,000 plus modal paspor. Belanja yang tidak kira-kira alias kalap dan lupa kalau kesininya pake subway, akhirnya bawaannya over. Berasa habis dari sumur ngambil air. Terpaksa kami memutuskan kembali dulu ke hostel simpan belanjaan trus lanjut ke destinasi berikutnya, Insadong.


Dongdaemun Design Plaza (DDP)

 Lotte Duty Free 
Aori Ramennya Seungri Big Bang
Cuma bisa foto, gak bisa makan (T.T)
Pose gak jelas (@DDP)
Insadong
Sekitar pukul 3 sore kami sampai di hostel. Buka pintu hostel kagetnya bukan main. Koper dan ransel pada kemana. Ternyata oh ternyata si ahjussi pemilik hostel sudah memasukan semua barang bawaan kami ke dalam kamar. Fiuhhh. Sudah terlalu banyan serangan panic untuk hari ini maka setelah diberi kunci kamar cuss Istirahat. Badan terasa pegal-pegal sisa dari pesawat tadi malam. Mungkin karena tidur malam yang kurang nyaman. Oke fix! Istirahat 2 jam tidur siang. Baru ingat ternyata kami belum makan siang bahkan sarapan Cuma segelas kopi tadi. Tapi rasa lelah dan kantuk megalahkan segalanya. Kami memutuskan untuk menjamak semua sarapan dan makan siang kami di Insadong nanti. Tidak lupa pasang alarm biar tidurnya tidak kalap juga. Setelah sholat maghrib, sekitar pukul 6 sore kami langsung menuju Insadong. Karena lokasinya yang tidak terlalu jauh, kami menaiki bus nomor N26 dari halte Ewha Womans Univ. dan turun di halte Jongo 2-ga. Penumpang naik melalui pintu depan dengan men-tap kartu T-money di mesin tap yang berada disamping pak supir bus. Sama halnya dengan subway, setelah men-tap kartu akan tampil saldo terakhir. Kelebihan bus dibanding subway, kita bias lihat suasana kota seoul. Sebelum sampai di halte tujuan, jangan lupa pencet tombol yang letaknya di samping kursi atau tiang pegangan di dalam bus. Kalau lupa pencet supir tidak akan berhenti kecuali ada penumpang yang akan naik bus tersebut.
 Jangan lupa pencet tombol yaa (;P)
 Sambil menuju titik tempat makan di google map, kami menyusuri kawasan Insadong sambil menikmati hiruk pikuknya. Saya baru menyadari kalau ternyata toko-toko kosmetik di area turis di Seoul sangat banyak. Seperti Etudehouse, nature republic, TonyMoly dan sebagainya. Bahkan di satu kawasan, untuk satu merk kosmetik, tokonya lebih dari satu.  Walaupun banyak mereka hidup berdampingan dengan aman dan tentram seperti si babang Indomaret dan si neng Alfamart. Di insadong juga banyak pedagang yang menjual cinderamata atau ole-ole. Menurut saya harganya sedikit lebih mahal dibandingkan dengan yang di Dongdaemun karena harganya sudah fix alias sudah tercantum sedangkan di Dondaemun kita masih bias menawar. Selain itu banyak juga berjejeran PKL yang menjual jajanan. Perut yang sudah keroncongan akut bikin baper. Keinginan mencoba terhalang dengan ketakutan kalau jajanannya tidak halal. Sepanjang jejeran PKL kami tidak menemukan yang mencantumkan logo halal. Beda dengan di Myeondong. Disana ada beberapa spot restoran dan PKL yang sudah mencantumkan logo halal.
Toko Cinderamata/Sovenir di Insadong
Dengan bantuan blog yang mengulas tempat makanan halal di Seoul, rencananya kami akan makan malam di Ose Gye Hyang yang berada di Insadong. Alamat nya di 14-5 Insadong 12-gil, Gwanhun-dong, Jongno-gu. tempatnya lumayan mikir untuk ditemukan. Setelah belok di Insadong 12-gil, lurus-lurus saja nanti pas mentok ada lorong kecil. Terus lurus ke lorong kecil itu. Tempatnya pas mentok, semacam tusuk sate kalo rumah di Indonesia. Hehe. Sempat heran juga ternyata pada umumnya aktivitas di Seoul hanya sampai pukul 10 malam. Kawasan Insadong makin sepi. Banyak toko yang sudah mulai tutup. Sementara waktu menunjukkan 15 menit lagi pukul 10. Sedangkan kami baru menemukan Ose Gye Hyang. Di pintu masuk  pun ada tulisan hanggul dan pk 21.30 yang menurut feeling artinya last order hanya sampai jam tersebut. Tapi suasana di dalam masih cukup ramai. Karena terdorong rasa lapar yang amat sangat, kami masuk saja ke dalam restoran. Dengan Bahasa isyarat, ahjumma yang sebagai koki bilang bahwa restoran sudah tutup. Mungkin dengan karena tampang polos yang medekati tampang yang perlu dikasihani, si ahjumma berubah pikiran dan menyuruh kami masuk tapi harus langsung pesan menu dengan tidak pakai lama. Untuk Logo halalnya belum ada tapi estoran ini hanya menjual menu untuk vegetarian. 
Ose Gye Hyang
Menu dan harganya bervariasi. Kisaran harga makanannya ₩7,000 - ₩12,000. Kami memesan 1 set menu lengkap, Soft Tofu Gang-doenjang Bibimbab dengan harga ₩9,000 ditambah semangkuk nasi dan mandu goreng seharga ₩7,000. Ahjumma memberi saran kalau kami tidak perlu memsan tambahan nasi. Tapi dasar orang Indonesia, tidak lengkap kalau tanpa nasi. Dan ternya si ahjumma benar, di bawah mangkuk sayur-sayuran sudah ada nasinya. Hahaha. Maka berakhirlah dengan sedikit mubassir akibat kekenyangan. Menu yang kami pesan bisa buat bertiga. Untuk minumnya gratis teh tawar panas. Rasa teh yang dsuguhkan enak, seperti ada madunya. Apalagi karena cuaca dingin. Total yang kami bayar untuk makan berdua ₩18,000 yang terbilang masih sedikit terjangkau mengingat biaya hidup di Seoul yang terbilang tinggi.
Lokasi Shooting ep 1 Running Man ('o')v

Karena hari pertama dan kedua yang ribetnya pake banget, ulasan Trip ke Seoul ini saya bagi menjadi beberapa part atau bagian.Untuk itinerary lengkap dengan cost akan saya bagikan di part/bagian paling akhir. Anyong!



Featured Post

Trip : Seoul, Korea Selatan – Part 1

Beberapa tahun belakangan ini apapun menyangkut Korea Selatan amat sangat di gandrungi. Pokoknya semua diawalai dengan huruf K, mulai da...